Make your own free website on Tripod.com

Pengalaman Beragama

 

Oleh

Alhani Erwan Dermawan

 

MENURUT Muhammad Iqbal, Al Quran secara umum bertujuan hendak menyadarkan manusia tentang adanya kesadaran bathin manusia yang lebih tinggi untuk berhubungan dengan Allah. Kesadaran bathin ini dalam sejarah filsafat agama telah menjadi objek telaah terus-menurus dalam suatu thema yang disebut pengalaman beragama, yaitu suatu pengalaman yang terjadi di ruang sebelah dalam bathin psikologis di mana manusia dapat mengembangkan suatu pusat kekuatan sedemikian rupa sehingga kebebasannya dapat bertumbuh secara penuh berhubungan langsung dengan pusat semesta yang dalam bahasa teologis disebut Allah.

Seperti laiknya, rasionalitas manusia yang Immanuel Kant sebutkan bersifat a priori demikian halnya dengan ruang sebelah dalam bathin psikologis adalah merupakan struktur a priori terhadap sesuatu yang irrasional yangmemungkinkan manusia meraih kesadaran beragama. Kesadaran tersebut adalah kepekaan terhadap yang kudus. Atas dasar kesadaran beragama inilah manusia dapat mengalami hal-hal duniawi sebagai petunjuk dari Illahi.

Di tingkat puncak pengalaman yangkudus ini dapat diisi dengan ide tentang Allah yang dalam strukturnya bersifat formal sehingga dengan cara ini manusia secara intuitif dan efektif mampu melihat misteri Illahi melalui penampakan simbol-simbol duniawi. Hal ini dapat dicontohkan bagaimana Nabi Ibrahami AS mengalami suatu pengalaman religus dengan melihat secara rohani kedahsyaratan matahari, rembulan dan semestra alam ketika ia sedang mencari Allah.

Atas dasar struktur a priori pengalaman beragama adalah dasar dari segala kegiatan rohani manusia yang dapat muncul dalam bentuk kerja-kerja kreatif, agama, filsafat, ilmu seni, cinta dan hubungan antar manusia.

Secara fenomenologis, struktur pengalaman beragama bersifat tergantung, karena itu agama sering didefinisikan sebagai the feeling of defence (perasaan ketergantungan) yang muncul karena perasaan keterciptaan, di mana manusia mengalami bahwa ia hilang dalam ketiadaan yang dialami secara objektif. Oleh karena itu pengalaman beragama merupakan suatu pernyataan diri.

Pada pengalaman beragama manusia mengalami suatu perasaan yang disebut misterium tremendum yakni bahwa pengalaman beragama itu menakutkan dan mengalami perasaan yang disebut misterium fascinosium yakni suatu perasaan terpesona, terpana dan terpikat. Kedua perasaan ini dapat dialami manusia puncaknya yang tertinggi, yaitu suatu keadaan ekstase dalam pengalaman mistik keagamaan.

Dari banyak-banyak karya mistik keagamaan yang berhubungan dengan manusia memberikan bukti bahwa pengalaman beragama sangat kuat dan berpengaruh besar dalam kehidupan  manusia. Kenyataan ini dapat menjadi bukti untuk menolak argumentasi Felisback atau Sigmund Freud yang beranggapan bahwa pengalaman beragama yang sudah dialami manusia beradab-abad hanyalah pengalaman ilusi manusia atas ketidakberdayaannya. Karena itu Muhammad Iqbal mengatakan pengalaman beragama bukanlah sesuatu yangbersifat khayal dan oleh sebab itu tidak mempunyai isis kognitif, namun pengalaman beragama adalah mempunyai makna.

Dalam tradisi skolastik yang banyak mempengaruhi pemikiran filsafat mistik Islam, Memberikan makna pengalaman beragama senantiasa terkait pengenalan diri di mana pengalaman beragama merupakan puncak dari pengenalan diri. Pengenalan diri adalah seni kehidupan dalam beragama, seni tertinggi yang akan membawa manusia kepada kecerahan yang berasal dari diri yang teringgi yakni Allah.

Ditinjau darisudut fisafat, perbincangan tentang pengalaman beragama sesungguhnya merupakan pembicaraan tentang cara menuju Allah atau dengan kata lain disebut juga dengan suatu usaha untuk mengerti adanya Allah yang termasuk dalam bidang metafisika.

Dalam metafisika ada empat cara untuk mengerti eksistensi Allah, yakni melalui finalitas di dalam kosmos, jalan melalui roh manusia dan jalan melalui pandangan bahwa Allah sebagai nilai mutlak serta jalan argumentasi ontologis.

Namun demikian Muhammad Iqbal tidak menyetujui jalan-jalan tersebut dengan mengemukakan pandangan bahwa situasi manusia tidaklah final dan bahwa pikiran dengan realitas merupakan kesatuan tak terpisahkan yang kesemuanya berdasarkan pengalaman manusia.

Menurut Muhammad Iqbal, pengalaman manusia itu berlangsung dalam waktu dan ruang serta mempunyai tiga tingkatan yakni materi, pikiran dan kesadaran di mana ketiga hal tersebut berlandaskan spiritual. Berdasarkan sifat spiritual pengalaman manusia inilah maka dikatakan Iqbal bahwa semakin seseorang mengalami pengalaman beragama maka semakin ia mengalami kebebasan, dan semakin mengalami pengalaman beragama maka semakin ia mengalami kebebasan, dan semakin orang tersebut mengalami kebebasan, maka semakin ia mengalami keadaan bersatu dengan usaha kreatif yang berasal dari Allah.

Usaha kreatif tersebut dalam persepektif Bergson disebut Elan Vital. Hal inilah yang mewujudkan evolusi kreatif semesta alam, karena itu alam dalam pandangan ini bukanlah benda-benda objektif melainkan suatu rangkaian kegiatan. Realitas merupakan suatu dorongan yang bersifat hidup dan kreatif dan tidak dapat diramalkan oleh pikiran yang mengacu pada benda-benda objektif, tetapi hanya dapat dipahami kuat intelektualitas berdasarkan intiusi.

Al Quran  surat 25 ayat 26 menyatakan bahwa : " Dialah yang menjadikan siang dan malam silih berganti, bagi siapa yang berkemauan mengingat atau keinginan bersyukur...".

Ayat ini menunjukkan bahwa suatu realitas hakiki berhubungan dengan perlangsungan waktu murni, dengan pikiran dan tujuan yang membentuk suatu kesatuan organik yang disebut oleh Iqbal dengan istilah Kesatuan Ego, yangmenjadi sumber semua kehidupan dan pikiran individu. Iqbal mengatakan bahwa berada dalam perlangsungan waktu murni berarti suatu ego, dan menjadi suatu ego berarti dapat menyatakan "aku". Yang dimaksud Iqbal adalah puncak pengalaman beragama terjadi dimana aku bersatu dengan Aku Hakiki yang merupakan asal dari diriku.

Oleh karena itu, waktu adalah unsur yang esensial dari realitas yang sesungguhnya. Kalau kita mengatakan ada waktu sebagai momen sambung-menyambung (waktu temporer yang kita alami), maka di balik itu sebenarnya ada waktu hakiki. Inilah ego yang mutlak dengan wataknya tidak berada dalam perubahan secara berganti, namun terlibat dalam usaha penciptaan yang terus menerus, sebagai evoluasi kreatif dari ego itu sendiri, inilah merupakan realitas terakhir, sebagai suatu kehidupan kreatif yang terarah secara rasional kodrat dari realitas ini adalah rohani.

Dengan demikian, mengalami dan terlibat dalam evoluasi kreatif ego adalah tempat dari makna pengalaman beragama. Dalam Islam  hal tersebut terwujud dalam simbolisme sholat dan zikir. Sholat dan Zikir adalah pernyataan kerinduan bathin manusia untuk mendapat jawaban atas hakikat hidup dan sebagai penghubung diri sebagai ego dengan ego yang mutlak.