Make your own free website on Tripod.com

Kursi Ketua, Milik Siapa?

 

Pontianak, AP Post

SETELAH meraih kursi yang kerap diidentikkan dengan barang empuk itu, ternyata masih ada kursi yang lebih empuk lagi untuk diperebutkan. Kursi Ketua (Pimpinan) DPRD Kalbar! Konon, selain bergengsi dalam hal prestise protokoler, kursi sang ketua juga punya nilai politis, maklum lembaga yang diketauanya adalah lembaga penjelmaan dari rakyat sebagai hasil Pemilu lebih-lebih jika disertai embel-embel DPRD reformasi (?). Siapakah figur-figur yang bakal diunggulkan menduduki kursi Ketua Dewan itu, serta fasilitas apa saja yang dinikmati sang ketua simak laporan berikut ini.

KENDATI DPRD Kalbar belum diresmikan, namun bursa Ketua Dewan beserta pimpinan Dewan sudah mulai menyemarakkan panggung politik Kalbar. Hal yang sama juga terjadi di tinggakat II tentunya. Setidaknya ada lima nama telah meramaikan bursa calon Ketua DPRD Kalbar.

Perebutan kursi Ketua kemudian menjadi hangat, lantaran jika semula UU No 4 tahun 1999 mengisyaratkan partai peraih suara terbanyak otomatis menjadi ketua dan peraih terbanyak berikutnya menjadi wakil-wakil ketua, namun ada pasal lain dan Surat Edaran Depdagri yang memberi isyarat lain bahwa pemilihan dimaksud harus melalui pemilihan, maka bursa calon ketua pun menghangat. arena, dengan kata lain peraih suara terbesar tidak mutlak menjadi ketua, kendati kansnya lebih besar.

Sejauh ini sedikitnya ada enam elit partai yang telah ditetapkan sebagai Caleg terpilih disebut-sebut bakal menduduki kursi Ketua, mereka adalah H Gusti Syamsumin dari FKP, H Rudy Alamsyahrum BE dari PDI Perjuangan, H Syarif Abdullah Alwi dari PPP, Suharsono SSos dari TNI/Polri, Silvanus Sungkalang SH dari PDI dan dr Hubertus Tekuwaan Oevang Oeray dari PBI.

Diatas kertas, Gusti Syamsumin memang unggul karena partai Golkar peraih suara terbanyak dengan 14 kursi. Masih berdasarkan perhitungan diatas kertas, pesaing terdekatnya adalah Rudy Alamsyahrum dimana PDIP meriah 11 kursi, atau kader dari PPP yang sementara ini disebut-sebut H Syarif Abdullah Alwi. Kendati meraih enam kursi dan berada diurutan ke tiga setingkat dengan fraksi TNI/Polri, namun kans Abdullah Alwi atau kader PPP lainnya cukup terbuka mengingat format dukungan poros tengah yang solid, sehingga memungkinkan kader PPP untuk tampil.

Kecuali Syarif Abdullah, peluang juga dimungkinkan kepada Tekuwaan, karena kendati PBI hanya meraih empat kursi namun ada format-format koalisi yang memungkinkan Tekuwaan meraih dukungan. Hal ini pernah dibuktikannya ketika merebut kursi Ketua PPD I Kalbar. Begitu pula Sungkalang, selain solid dengan empat kursinya tidak tertutup kemungkinan PDI membangun koalisi dengan sejumlah partai yang "sehaluan".

Sementara TNI/Polri yang meraih enam kursi, bisa menjadi alternatif lebih-lebih andai, koalisi yang dibangun fraksi-fraksi lain pecah. Sebut saja contoh kasus pemilihan Ketua DPRD DKI, jika pilihan itu jatuh pada TNI/Polri, maka peluangnya bakal diraih Suharsono karena, diantara Caleg jadi TNI/Polri dialah anggota paling senior, sebuah tradisi yang melekat di tubuh TNI/Polri.

Rudy Alamsyahrum sendiri menjamin 11 anggota fraksi solid, bahkan pihaknya telah mempersiapkan langkah-langka melobi fraksi lain untuk bergabung. "Saya yakin kok, bakal terpilih sebagai Ketua, sebab 11 anggota kita sudah solid ditambah dukungan dari partai-partai kecil yang sejalan dengan perjuangan reformasi," katanya menjawab AP Post Jumat malam.

Ditanya siapa pesaing beratnya, Rudy menjawab diplomatis: "Yang tampil di Dewan tentunya sudah terseleksi dan mereka adalah orang-orang terbaik, namun saya yakin saya akan tampil diantara yang terbaik itu," katanya optimis.

Sementara Gusti Syamsumin yang dihubungi AP Post awal pekan tadi memilih tidak berkomentar banyak. "Dewan kan belum diresmikan, kita lihat dan tunggu saja waktu yang tepat nanti," katanya.

Soal pentingnya kursi Ketua ini, Hubertus Tekuwaan berpendapat semua orang bercita-cita ingin meraih kedudukan yang tinggi. Begitu pula menjadi Ketua DPRD. Tapi itu tergantung kepada dewan sendiri. "Apakah ingin membuat komitmen yang baru ataukah mengikui petunjuk lama seperti Fraksi terbesar dialah menjadi ketua," katanya kepada Astuti dari AP Post. Dia menambahkan jika harus memilih maka ia lebih senang bila dilakukan voting.

Dia juga tidak sependapat jika peraih suara terbanyak langsung menjadi Ketua Dewan. "Itu nyata tak mencerminkan demokrasi," ujarnya. Dan tak mustahil pula, Ketua Dewan akan diduduki oleh Partai Gurem, mengingat bila partai-partai gurem bergabung akan mempunyai  jumlah yang besar, kursi yang diperolehan parpol-parpol besar apalagi bila itu didukung dengan partai reformis, dengan cita-cita sama untuk melakukan perubahan. Mengingat tugas dewan tak ringan dalam mengemban visi dan misi kedepan Kalbar.

Namun demikian, sejauh ini bagaimana format dan mekanisme pemilihan Ketua DPRD kalbar belum diketahui, karena keanggotannya belum diresmikan. Apakah pemilihan berdasarkan paket Pimpinan (Ketua dan Wakil Ketua), ataukah dipilih dengan model lain, tergantung pada Tatib yang kelak akan dibuat Dewan sendiri. Tatib pemilhan dimaksud, merupakan tugas awal Dewan. Dan siapakah yang akan terpilih? yang pasti dia adalah putra terbaik Kalbar.(gusti Yusri)