Make your own free website on Tripod.com

Sampai Minggu 35 Jumlah Penderita 88 Meninggal 5

Tak Cukup Hanya Foging

 

Singkawang,AP Post

Langkah paling utama mencegah merebaknya demam berdarah tak sekedar melakukan foging atau penyemprotan dari rumah ke rumah atau lingkungan lainnya, namun yang diutamakan adalah dengan melakukan pembasmian atau pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sampai minggu ke 35 yakni Januari hingga minggu pertama September lalu, jumlah pasien demam berdarah yang dirawat di RS sebanyak 88 pasien sementara korban yang meninggal dunia sebanyak 5 orang.

Data yang ada pada Dinas Kesehatan Sambas menunjukan memasuki minggu ke 36, jumlahnya bertambah lagi empat pasien. Namun beberapa diantara mereka ada yang sudah dinyatakan sehat dan pulang.

"Kalau penyemprotan memang langkah yang baik, namun sifatnya hanya sementara sebab setelah racunnya hilang dalam waktu singkat nyamuk penyebar penyakit demam berdarah tersebut datang lagi," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Bengkayang dr Nurmansyah menjawab AP Post, Rabu (15/9) kemarin.

Menurut Nurmansyah yang didampingi Plt Kadis Kesehatan Sambas Effendi Junaidi, Kasi P2P Kismed dan beberapa staf langkah terbaik yang bisa dilakukan dan sangat diharapkan dilakukan sendiri oleh masyarakat adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masing-masing.

Ditambahkan, setelah pemberantasan sarang nyamuk merupakan langkah utama, langkah berikutnya yang harus dilaksanakan di rumah-rumah adalah dengan abatisasi dengan menaburkan abate pada air yang disimpan dirumah untuk membunuh nyamuk berikut sarangnya."Ini dua langkah efektif, baru urutan berikutnya penyemprotan," jelas mereka.

Effendi mengharapkan, agar masyarakat lebih partisipatif dalam mengatasi mewabahnya demam berdarah."Misalnya dengan gerakan Jum'at bersih dan sebagainya, sebab hanya dengan kesadaran dari masyarakat untuk membersihkan lingkungannya tersebut akan sangat membantu penyebarannya," tegasnya.

Tak sepenuhnya masyarakat hanya tergantung pada petugas dalam hal ini Dinas Kesehatan."Peran dari masyarakat dibutuhkan, guna mencegah timbulnya korban-korban berikutnya," timpal Nurmansyah.

Namun lanjutnya, sekarang ini kesadaran masyarakat untuk segera membawa penderita ke pusat layanan kesehatan terdekat sangat tinggi.Hal ini terlihat dari cepatnya mereka membawa penderita, apabila dicurigai adanya tanda-tanda demam berdarah."Kesadaran masyarakat untuk hal ini cukup tinggi," ujarnya.Tentunya, untuk pelayanan yang diberikan juga akan cepat bila masyarakat cepat pula.

Nurmansyah menambahkan, kendati tanda-tanda semacam bintik-bintik merah belum bisa dipastikan sebagai gejala demam berdarah karena harus dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium apakah ada penyebaran darah, namun kecepatan dan langkah antisipasi masyarakat sangat dihargai.

Menyinggung banyaknya korban deman berdarah di wilayah pesisir pantai, Kismed dan Nurmansyah mengatakan pada daerah pesisir maupun sekitarnya umumnya masyarakat sering mengalami kesulitan air bersih, sehingga banyak yang menyimpan air sebagai persediaan menggunakan gentong atau drum."Penggunaannya tak sesuai dengan aturan pula, misalnya tak ditutup sehingga nyamuk mudah bersarang," kata keduanya.

Sementara di kawasan yang lebih dalam misalnya di wilayah Samalantan, hingga Bengkayang terus ke Ledo dan Sanggau Ledo jumlah penderita demam berdarah relatif kecil karena di wilayah tersebut umumnya masyarakat menggunakan air bersih yang mengalir."Jadi kemungkinan penyimpanan kecil yang bisa dijadikan sarang nyamuk," ujarnya.Namun langkah antisipasi tetap dilakukan.

Pihak Dinkes Sambas maupun Bengkayang sendiri, kini aktif melakukan berbagai penyuluhan kepada masyarakat. Surat edaran disebarkan baik melalui Puskesmas maupun sarana komunikasi lainnya.(lyn)