Make your own free website on Tripod.com

Wakil PDI di DPRD Bengkayang tak Sah

Asung: Itu Hasil Rekayasa

 

Singkawang,AP Post

Gonjang-ganjing tak legal-nya kader partai yang duduk di kursi legislatif menyentuh pula Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Partai yang belakangan terlihat "dingin" ternyata di Kabupaten Bengkayang menyimpan sedikit bara. Pasalnya, kader yang duduk di kursi legislatif Bengkayang mewakili PDI ternyata bukan figur yang mewakili aspirasi berdasarkan hasil suara terbanyak.

Kini salah satu kursi di DPRD Bengkayang dari PDI diisi Aloysius Kilim, BA yang mewakili Kecamatan Bengkayang. Sayangnya, pada Pemilu lalu ternyata partai berlambang kepala banteng tersebut di Bengkayang meraih suara lebih kecil bila dibandingkan Kecamatan Samalantan. Namun ketika dilantik sebagai anggota dewan, ternyata bukan wakil dari Kecamatan Samalantan melainkan dari Kecamatan Bengkayang.

Pantas saja hal ini membuat P Asung, caleg nomor urut satu Kecamatan Samalantan yang mewakili PDI bertanya-tanya dan keheranan. Sebab seharusnya dirinyalah yang duduk sebagai anggota dewan karena pada pemilu lalu berhasil meraih suara terbesar yakni 2.135 suara sementara Bengkayang hanya  1.357 suara. "Namun ternyata, saya harus menelan pil pahit membiarkan kursi yang seharusnya diduduki pada caleg lainnya," kata P Asung kepada AP Post, Jum'at (17/9) kemarin.

Asung mengaku kesal dengan kenyataan yang harus dihadapinya."Apakah saya harus mengalah hanya karena orang yang duduk sehari-harinya sebagai pengurus DPC PDI Sambas maupun Bengkayang," tegasnya.

Perbedaan suara yang mencolok, antara Kecamatan Samalantan dan Bengkayang saja lanjut Asung seharusnya sudah menjadi pertimbangan siapa yang layak duduk sebagai wakil partai.Namun pada kenyataannya sangat berbeda."Inikan sama dengan pelecehan, sebab Samalantan yang jelas meraih suara terbanyak tak diberikan kesempatan," ujarnya.

Ia menduga, kalau dalam penentuan figur yang duduk sebagai wakil rakyat tersebut adalah besarnya unsur rekayasa."Prediksi saya mengatakan hal ini dibuat oleh oknum yang hanya ingin mencari keuntungan pribadi semata dengan keberaniannya memanipulasi partai," tuturnya.

Kekesalan bercampur kecurigaan Asung tersebut, diperkuat setelah sebelumnya ia pernah menyatakan dirinya ikut bergabung dengan PDI Perjuangan. Bahkan waktu itu menjadi Caleg urutan satu juga untuk Kecamatan Samalantan.

Namun suatu hari, menurut pengakuan Asung dirinya didatangi tujuh kader PDI baik dari DPC Sambas maupun DPD Kalbar yang memintanya untuk membina PAC PDI Kecamatan Samalantan."Waktu itu saya sempat menolak, karena sudah menjadi caleg PDI P namun oleh rekan dari PDI tersebut menyebutkan bahwa PDI masih berjalan mengapa harus pindah," katanya menirukan.

Sembari menjelaskan sistem distrik yang lebih menguntungkan dimana bila bisa meraih suara terbanyak akan bisa duduk sebagai anggota dewan, Asung akhirnya mengaku tertarik."Bagaimana saya tak tertarik, sebab waktu itu dijelaskan bahwa siapapun yang berhasil meraih suara terbanyak dipastikan akan menjadi anggota dewan dan tak bisa diganggu gugat," katanya.

Ketika menjelang kampanye lalu, menurut Asung ia pun dititipkan pesan oleh kader PDI dari Pontianak bahwa untuk meraih suara terbanyak diharapkan, untuk keperluan pemilu menggunakan dana sendiri."Mau tak mau dana belasan juta rupiah akhirnya amblas sebagai dana kampanye, namun hasilnya nihil," kata Asung dengan nada kesal.Belum lagi janji Asung yang sudah telanjur dibuat kepada warga Kecamatan Samalantan saat pemilu lalu.

Karena itu, tegas Asung warga Kecamatan Samalantan menolak Aloysius Kilim sebagai wakil mereka di DPRD Bengkayang dan sesegera mungkin diganti. Karena itu semua hasil rekayasa.(lyn)